Wonogiri
Kini Menjadi Sentra Baru Industri Mebel di Jateng
KABUPATEN Wonogiri terus berkembang sebagai salah
satu sentra industri mebel diJateng. Memang baru dimulai, tetapi
pertumbuhannya tergolong sangat cepat.
Selain
ditandai oleh kemerebakan industri-industri mebel, perkembangan bisa pula
dilihat pada nilaiekspor yang dicapai para pengusaha daerah tersebut.
Pertumbuhan
industri mebel di KotaGaplek itu tak bisa dilepaskan dari peran pihak ketiga.
Salah satu yang sejak 2001 sangat aktif membantu adalah PerformProject.
Lembaga
konsultan dari USAID itu menelurkan program LocalEconomicDevelopment
untuk membantu para perajin dan pengusaha mebel di tempat itu.
Peran
PerformProject cukup besar. Sebagai industri yang baru tumbuh, para perajin
dan pengusaha mebel di Wonogiri masih dibelit oleh berbagai persoalan rumit.
Persoalan
itu antara lain keminiman bahan baku dan modal, serta keterbatasan kemampuan
dan motivasi para pelaku industrinya.
Dari
ketiga persoalan itu yang paling serius terletak pada perajin atau sumber daya
manusianya.
"Warga
di sini selama ini hanya menganggap usaha mebel sebagai sambilan. Mereka
memilih menjadi petani saat masa tanam tiba, dan meninggalkan begitu saja usaha
itu," kata Jumadiarto, seorang pengusaha di Wonogiri.
Ketika
masih berkutat pada persoalan itu pada 2001, PerformProject masuk Wonogiri
untuk memberikan pendampingan kepada perajin dan pengusaha mebel.
Untuk
mengatasi berbagai persoalan atas fasilitas Perform Project para perajin dan
pengusaha akhirnya membentuk Forum Usaha Kecil Menengah Perajin dan Eksportir
Mebel Wonogiri.
AC
Mochtari, seorang eksportir mebel di Wonogiri mengatakan, kini setiap bulan dia
mengekspor minimal 15 kontainer mebel ke Denmark,Australia,Singapura,Spanyol,
danAS. Nilainya mencapai 80.000 dolar AS.
Pada
periode yang lalu Mochtari masih sendirian. Usaha mebeldiWonogiri sudah
dirintis sejak tahun 1970-an, tetapi masih dianggap sebagai pekerjaan sambilan
dan hanya menjadi industri rumahan.
Di
samping itu, belum terlalu banyak yang mengerjakan secara serius.
"Namanya
saja sambilan ya dilakukan bila ada waktu luang. Ketika itu perajin di sini hanya
mengerjakan untuk keperluan sendiri atau paling banter melayani pemesanan para
tetangga dekat," ujar dia.
Sebagai
kon-sekuensi kegiatan sambilan, lanjut dia, ketika itu volume produksinya tidak
seberapa. Kadang-kadang ada produksi, tetapi lain waktu tidak ada.
Bisa
disimpulkan waktu itu mebel masih menjadi sebuah kegiatan serabutan masyarakat.
Sebagian lagi meneruskan usaha dari orang tuanya.
Sebelum
menjadi seperti sekarang, saat memulai usaha Mochtari tidak langsung melakukan
ekspor.
Semua
pengusaha itu kini merambah pasar ekspor dengan jumlah ekspor rata-rata per
bulan antara 6 dan 8 kontainer.
Tenaga
Kerja
Di
samping memunculkan para pengusaha baru, pertumbuhan industri mebeldiWonogiri
bisa dilihat pada tenaga kerja yang terserap di sektor itu.
Data
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Wonogiri menunjukkan ada 3.679
orang yang bekeja di sektor usaha mebel. Mereka tersebar di industri besar dan
kecil pada 24 kecamatan
Mochtari
mengakui perkembangan sektor industri mebel di Wonogiri tidak bisa dilepaskan
dari kemerosotan industri sejenis di Jepara. Bahkan itu saling terkait.
Sekarang
banyak perajin mebel di Jepara yang menjual barang setengah jadi kepada para
pengusaha di Wonogiri. Barang-barang itu lalu di-finishing dan kemudian
diekspor.
"Saya
masih menerima banyak barang setengah jadi produksi perajin mebel Jepara.
Barang-barang itu diberi sentuhan akhir di sini sebelum dilempar ke pasar
ekspor," tutur Mochtari.
RegionalManager PerformProject Jateng, TrisSuswanto, mengatakan, program LocalEconomicDevelopment yang membantu perajin dan pengusaha mebel di Wonogiri
hanya salah satu dari sekian program pendampingan Perform di provinsi ini.
Selain
program itu, pihaknya memiliki program Perencanaan Korporat (corporate plan)
bagi BPR/BKK serta Perusda, Strategi Program, Program Investasi, Perencanaan
Bersama Masyarakat, dan Program Pengambangan Institusional.
"Semua
program itu berada dalam payung Program Dasar Pembangunan Partisipatif yang
telah kami lakukan sejak 2001," jelas dia.
Jumadiarto
menyatakan pembentukan Forum Usaha Kecil Menengah yang difasilitasi Perform
Project membawa perubahan positif bagi perkembangan industri mebel di Wonogiri.
Pemerintah
Kabupaten Wonogiri yang sebelumnya tidak terlalu memperhatikan sektor industri
itu, mulai melirik sebagai salah satu program unggulan pemerintah setempat.
Itu
antara lain terlihat pada pemasukan industri mebel pada salah satu program
kerja sama regional tiga kabupaten di tiga provinsi.
Kerja
sama berbagai bidang antara Pemerintah Kabupaten Pacitan (Jatim), Wonogiri
(Jateng), dan Wonosari (DIY) yang lebih dikenal dengan sebutan Pawonsari itu
kini menjalin komitmen mengembangkan industri mebel di ketiga wilayah tersebut.
Kerja
sama itu saling berkait karena kebutuhan ketiga daerah yang berbeda
dipertemukan. Jika persoalan di Wonogiri menyangkut bahan baku, di PacitandanWonosari bahan baku justru berlimpah. Sementara itu soal tenaga perajin dan
eksportir Wonogiri lebih unggul dibandingkan dengan kedua daerah itu.
Kekurangan dan kelebihan itu dipertemukan dalam jalinan kerja sama.
Berbagai
realisasi kerja sama sudah dirintis. Namun, karena persoalan di tiga wilayah
itu berbeda realisasi dan penanganan, persoalannya pun berbeda."Untuk
sementara ini Wonogiri berperan membina perajin dan eksportir dari PacitandanWonosari. Bahkan ada program magang bagi perajin dari kedua daerah itu. Mereka
mengirimkan perajin masing-masing 5 orang untuk magang di sini," kata
Jumadiarto.
Bagi
Wonogiri, bahan baku kayu jati yang berlimpah di Pacitan dan Wonosari bisa
dimanfaatkan. Bahkan ke depan kerja sama itu diharapkan bisa menghasilkan
semacam tradinghouse atau showroombersama produk mebel.
Di
samping itu, Wonogiri akan dikembangkan menjadi pusat pemasaran hasil mebel
dari ketiga daerah tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar