Sabtu, 30 Juni 2012

Pasar Mebel Solo dari Wonogiri


Wonogiri Kini Menjadi Sentra Baru Industri Mebel di Jateng
KABUPATEN Wonogiri terus berkembang sebagai salah satu sentra industri mebel diJateng. Memang baru dimulai, tetapi pertumbuhannya tergolong sangat cepat.
Selain ditandai oleh kemerebakan industri-industri mebel, perkembangan bisa pula dilihat pada nilaiekspor yang dicapai para pengusaha daerah tersebut.
Pertumbuhan industri mebel di KotaGaplek itu tak bisa dilepaskan dari peran pihak ketiga. Salah satu yang sejak 2001 sangat aktif membantu adalah PerformProject.
Lembaga konsultan dari USAID itu menelurkan program LocalEconomicDevelopment untuk membantu para perajin dan pengusaha mebel di tempat itu.
Peran PerformProject cukup besar. Sebagai industri yang baru tumbuh, para perajin dan pengusaha mebel di Wonogiri masih dibelit oleh berbagai persoalan rumit.
Persoalan itu antara lain keminiman bahan baku dan modal, serta keterbatasan kemampuan dan motivasi para pelaku industrinya.
Dari ketiga persoalan itu yang paling serius terletak pada perajin atau sumber daya manusianya.
"Warga di sini selama ini hanya menganggap usaha mebel sebagai sambilan. Mereka memilih menjadi petani saat masa tanam tiba, dan meninggalkan begitu saja usaha itu," kata Jumadiarto, seorang pengusaha di Wonogiri.
Ketika masih berkutat pada persoalan itu pada 2001, PerformProject masuk Wonogiri untuk memberikan pendampingan kepada perajin dan pengusaha mebel.
Untuk mengatasi berbagai persoalan atas fasilitas Perform Project para perajin dan pengusaha akhirnya membentuk Forum Usaha Kecil Menengah Perajin dan Eksportir Mebel Wonogiri.
AC Mochtari, seorang eksportir mebel di Wonogiri mengatakan, kini setiap bulan dia mengekspor minimal 15 kontainer mebel ke Denmark,Australia,Singapura,Spanyol, danAS. Nilainya mencapai 80.000 dolar AS.
Pada periode yang lalu Mochtari masih sendirian. Usaha mebeldiWonogiri sudah dirintis sejak tahun 1970-an, tetapi masih dianggap sebagai pekerjaan sambilan dan hanya menjadi industri rumahan.
Di samping itu, belum terlalu banyak yang mengerjakan secara serius.
"Namanya saja sambilan ya dilakukan bila ada waktu luang. Ketika itu perajin di sini hanya mengerjakan untuk keperluan sendiri atau paling banter melayani pemesanan para tetangga dekat," ujar dia.
Sebagai kon-sekuensi kegiatan sambilan, lanjut dia, ketika itu volume produksinya tidak seberapa. Kadang-kadang ada produksi, tetapi lain waktu tidak ada.
Bisa disimpulkan waktu itu mebel masih menjadi sebuah kegiatan serabutan masyarakat. Sebagian lagi meneruskan usaha dari orang tuanya.
Sebelum menjadi seperti sekarang, saat memulai usaha Mochtari tidak langsung melakukan ekspor.
Semua pengusaha itu kini merambah pasar ekspor dengan jumlah ekspor rata-rata per bulan antara 6 dan 8 kontainer.
Tenaga Kerja
Di samping memunculkan para pengusaha baru, pertumbuhan industri mebeldiWonogiri bisa dilihat pada tenaga kerja yang terserap di sektor itu.
Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Wonogiri menunjukkan ada 3.679 orang yang bekeja di sektor usaha mebel. Mereka tersebar di industri besar dan kecil pada 24 kecamatan
Mochtari mengakui perkembangan sektor industri mebel di Wonogiri tidak bisa dilepaskan dari kemerosotan industri sejenis di Jepara. Bahkan itu saling terkait.
Sekarang banyak perajin mebel di Jepara yang menjual barang setengah jadi kepada para pengusaha di Wonogiri. Barang-barang itu lalu di-finishing dan kemudian diekspor.
"Saya masih menerima banyak barang setengah jadi produksi perajin mebel Jepara. Barang-barang itu diberi sentuhan akhir di sini sebelum dilempar ke pasar ekspor," tutur Mochtari.
RegionalManager PerformProject Jateng, TrisSuswanto, mengatakan, program LocalEconomicDevelopment yang membantu perajin dan pengusaha mebel di Wonogiri hanya salah satu dari sekian program pendampingan Perform di provinsi ini.
Selain program itu, pihaknya memiliki program Perencanaan Korporat (corporate plan) bagi BPR/BKK serta Perusda, Strategi Program, Program Investasi, Perencanaan Bersama Masyarakat, dan Program Pengambangan Institusional.
"Semua program itu berada dalam payung Program Dasar Pembangunan Partisipatif yang telah kami lakukan sejak 2001," jelas dia.
Jumadiarto menyatakan pembentukan Forum Usaha Kecil Menengah yang difasilitasi Perform Project membawa perubahan positif bagi perkembangan industri mebel di Wonogiri.
Pemerintah Kabupaten Wonogiri yang sebelumnya tidak terlalu memperhatikan sektor industri itu, mulai melirik sebagai salah satu program unggulan pemerintah setempat.
Itu antara lain terlihat pada pemasukan industri mebel pada salah satu program kerja sama regional tiga kabupaten di tiga provinsi.
Kerja sama berbagai bidang antara Pemerintah Kabupaten Pacitan (Jatim), Wonogiri (Jateng), dan Wonosari (DIY) yang lebih dikenal dengan sebutan Pawonsari itu kini menjalin komitmen mengembangkan industri mebel di ketiga wilayah tersebut.
Kerja sama itu saling berkait karena kebutuhan ketiga daerah yang berbeda dipertemukan. Jika persoalan di Wonogiri menyangkut bahan baku, di PacitandanWonosari bahan baku justru berlimpah. Sementara itu soal tenaga perajin dan eksportir Wonogiri lebih unggul dibandingkan dengan kedua daerah itu. Kekurangan dan kelebihan itu dipertemukan dalam jalinan kerja sama.
Berbagai realisasi kerja sama sudah dirintis. Namun, karena persoalan di tiga wilayah itu berbeda realisasi dan penanganan, persoalannya pun berbeda."Untuk sementara ini Wonogiri berperan membina perajin dan eksportir dari PacitandanWonosari. Bahkan ada program magang bagi perajin dari kedua daerah itu. Mereka mengirimkan perajin masing-masing 5 orang untuk magang di sini," kata Jumadiarto.
Bagi Wonogiri, bahan baku kayu jati yang berlimpah di Pacitan dan Wonosari bisa dimanfaatkan. Bahkan ke depan kerja sama itu diharapkan bisa menghasilkan semacam tradinghouse atau showroombersama produk mebel.
Di samping itu, Wonogiri akan dikembangkan menjadi pusat pemasaran hasil mebel dari ketiga daerah tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar