Sabtu, 14 Juli 2012

Kayu Jati


KAYU JATI
Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Berdaun besar, yang luruh di musim kemarau.
Jati dikenal dunia dengan nama teak (bahasa Inggris). Nama ini berasal dari kata thekku  dalam bahasa Malayalam, bahasa di negara bagian Kerala di India selatan. Nama ilmiah jati adalah Tectona grandis L.f.
Jati dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1 500 – 2 000 mm/tahun dan suhu 27 – 36 °C baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Tempat yang paling baik untuk pertumbuhan jati adalah tanah dengan pH 4.5 – 7 dan tidak dibanjiri dengan air.  Jati memiliki daun berbentuk elips yang lebar dan dapat mencapai 30 – 60 cm saat dewasa.
Jati memiliki pertumbuhan yang lambat dengan germinasi rendah (biasanya kurang dari 50%) yang membuat proses propagasi secara alami menjadi sulit sehingga tidak cukup untuk menutupi permintaan atas kayu jati. Jati biasanya diproduksi secara konvensional dengan menggunakan biji. Akan tetapi produksi bibit dengan jumlah besar dalam waktu tertentu menjadi terbatas karena adanya lapisan luar biji yang keras. Beberapa alternatif telah dilakukan untuk mengatasi lapisan ini seperti merendam biji dalam air, memanaskan biji dengan api kecil atau pasir panas, serta menambahkan asam, basa, atau bakteri. Akan tetapi alternatif tersebut masih belum optimal untuk menghasilkan jati dalam waktu yang cepat dan jumlah yang banyak.

Sebaran hutan jati di Indonesia

Di Indonesia sendiri, selain di Jawa dan Muna, jati juga dikembangkan di Bali dan Nusa Tenggara.
Dalam beberapa tahun terakhir, ada upaya untuk mengembangkan jati di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Hasilnya kurang menggembirakan. Jati mati setelah berusia dua atau tiga tahun. Masalahnya, tanah di kedua tempat ini sangat asam. Jati sendiri adalah jenis yang membutuhkan zat kalsium dalam jumlah besar, juga zat fosfor. Selain itu, jati membutuhkan cahaya matahari yang berlimpah.
Sekarang, di luar Jawa, kita dapat menemukan hutan jati secara terbatas di beberapa tempat di Pulau Sulawesi, Pulau Muna, daerah Bima di Pulau Sumbawa, dan Pulau Buru. Jati berkembang juga di daerah Lampung di Pulau Sumatera.
Pada 1817, Raffles mencatat jika hutan jati tidak ditemukan di Semenanjung Malaya atau Sumatera atau pulau-pulau berdekatan. Jati hanya tumbuh subur di Jawa dan sejumlah pulau kecil di sebelah timurnya, yaitu Madura, Bali, dan Sumbawa. Perbukitan di bagian timur laut Bima di Sumbawa penuh tertutup oleh jati pada saat itu.
Heyne, pada 1671, mencatat keberadaan jati di Sulawesi, walau hanya di beberapa titik di bagian timur. Ada sekitar 7.000 ha di Pulau Muna dan 1.000 ha di pedalaman Pulau Butung di Teluk Sampolawa. Heyne menduga jati sesungguhnya terdapat pula di Pulau Kabaena, serta di Rumbia dan Poleang, di Sulawesi Tenggara. Analisis DNA mutakhir memperlihatkan bahwa jati di Sulawesi Tenggara merupakan cabang perkembangan jati jawa.
Jati yang tumbuh di Sulawesi Selatan baru ditanam pada masa 1960an dan 1970an. Ketika itu, banyak lahan di Billa, Soppeng, Bone, Sidrap, dan Enrekang sedang dihutankan kembali. Di Billa, pertumbuhan pohon jatinya saat ini tidak kalah dengan yang ada di Pulau Jawa. Garis tengah batangnya dapat melebihi 30 cm.

Daerah sebaran hutan jati di Jawa

Sedini 1927, hutan jati tercatat menyebar di pantai utara Jawa, mulai dari Kerawang hingga ke ujung timur pulau ini. Namun, hutan jati paling banyak menyebar di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu sampai ketinggian 650 meter di atas permukaan laut. Hanya di daerah Besuki jati tumbuh tidak lebih daripada 200 meter di atas permukaan laut.
Di kedua provinsi ini, hutan jati sering terbentuk secara alami akibat iklim muson yang menimbulkan kebakaran hutan secara berkala. Hutan jati yang cukup luas di Jawa terpusat di daerah alas roban Rembang, Blora, Groboragan, dan Pati. Bahkan, jati jawa dengan mutu terbaik dihasilkan di daerah tanah perkapuran Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Saat ini, sebagian besar lahan hutan jati di Jawa dikelola oleh Perhutani, sebuah perusahaan umum milik negara di bidang kehutanan. Pada 2003, luas lahan hutan Perhutani mencapai hampir seperempat luas Pulau Jawa. Luas lahan hutan jati Perhutani di Jawa mencapai sekitar 1,5 juta hektar. Ini nyaris setara dengan setengah luas lahan hutan Perhutani atau sekitar 11% luas Pulau Jawa.

Sifat-sifat kayu dan pengerjaan

Kayu jati merupakan kayu kelas satu karena kekuatan, keawetan dan keindahannya. Secara teknis, kayu jati memiliki kelas kekuatan I dan kelas keawetan I. Kayu ini sangat tahan terhadap serangan rayap.
Kayu teras jati berwarna coklat muda, coklat kelabu hingga coklat merah tua. Kayu gubal, di bagian luar, berwarna putih dan kelabu kekuningan.
Meskipun keras dan kuat, kayu jati mudah dipotong dan dikerjakan, sehingga disukai untuk membuat furniture dan ukir-ukiran. Kayu yang diampelas halus memiliki permukaan yang licin dan seperti berminyak. Pola-pola lingkaran tahun pada kayu teras nampak jelas, sehingga menghasilkan gambaran yang indah.
Dengan kehalusan tekstur dan keindahan warna kayunya, jati digolongkan sebagai kayu mewah. Oleh karena itu, jati banyak diolah menjadi mebel taman, mebel interior, kerajinan, panel, dan anak tangga yang berkelas.
Sekalipun relatif mudah diolah, jati terkenal sangat kuat dan awet, serta tidak mudah berubah bentuk oleh perubahan cuaca. Atas alasan itulah, kayu jati digunakan juga sebagai bahan dok pelabuhan, bantalan rel, jembatan, kapal niaga, dan kapal perang. Tukang kayu di Eropa pada abad ke-19 konon meminta upah tambahan jika harus mengolah jati. Ini karena kayu jati sedemikian keras hingga mampu menumpulkan perkakas dan menyita tenaga mereka. Manual kelautan Inggris bahkan menyarankan untuk menghindari kapal jung Tiongkok yang terbuat dari jati karena dapat merusak baja kapal marinir Inggris jika berbenturan.
Pada abad ke-17, tercatat jika masyarakat Sulawesi Selatan menggunakan akar jati sebagai penghasil pewarna kuning dan kuning coklat alami untuk barang anyaman mereka. Di Jawa Timur, masyarakat Pulau Bawean menyeduh daun jati untuk menghasilkan bahan pewarna coklat merah alami. Orang Lamongan memilih menyeduh tumbukan daun mudanya. Sementara itu, orang Pulau Madura mencampurkan tumbukan daun jati dengan asam jawa. Pada masa itu, pengidap penyakit kolera pun dianjurkan untuk meminum seduhan kayu dan daun jati yang pahit sebagai penawar sakit.
Jati burma sedikit lebih kuat dibandingkan jati jawa. Namun, di Indonesia sendiri, jati jawa menjadi primadona. Tekstur jati jawa lebih halus dan kayunya lebih kuat dibandingkan jati dari daerah lain di negeri ini. Produk-produk ekspor yang disebut berbahan java teak (jati jawa, khususnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur) sangat terkenal dan diburu oleh para kolektor di luar negeri.
Menurut sifat-sifat kayunya, di Jawa orang mengenal beberapa jenis jati (Mahfudz dkk., t.t.):
  1. Jati lengo atau jati malam, memiliki kayu yang keras, berat, terasa halus bila diraba dan seperti mengandung minyak (Jw.: lengo, minyak; malam, lilin). Berwarna gelap, banyak berbercak dan bergaris.
  2. Jati sungu. Hitam, padat dan berat (Jw.: sungu, tanduk).
  3. Jati werut, dengan kayu yang keras dan serat berombak.
  4. Jati doreng, berkayu sangat keras dengan warna loreng-loreng hitam menyala, sangat indah.
  5. Jati kembang.
  6. Jati kapur, kayunya berwarna keputih-putihan karena mengandung banyak kapur. Kurang kuat dan kurang awet.

Kegunaan kayu jati

Permukaan mebel jati.
Kayu jati mengandung semacam minyak dan endapan di dalam sel-sel kayunya, sehingga dapat awet digunakan di tempat terbuka meski tanpa divernis; apalagi bila dipakai di bawah naungan atap.
Jati sejak lama digunakan sebagai bahan baku pembuatan kapal laut, termasuk kapal-kapal VOC yang melayari samudera di abad ke-17. Juga dalam konstruksi berat seperti jembatan dan bantalan rel.
Di dalam rumah, selain dimanfaatkan sebagai bahan baku furniture kayu jati digunakan pula dalam struktur bangunan. Rumah-rumah tradisional Jawa, seperti rumah joglo Jawa Tengah, menggunakan kayu jati di hampir semua bagiannya: tiang-tiang, rangka atap, hingga ke dinding-dinding berukir.
Dalam industri kayu sekarang, jati diolah menjadi venir (veneer) untuk melapisi wajah kayu lapis mahal; serta dijadikan keping-keping parket (parquet) penutup lantai. Selain itu juga diekspor ke mancanegara dalam bentuk furniture luar-rumah.
Ranting-ranting jati yang tak lagi dapat dimanfaatkan untuk mebel, dimanfaatkan sebagai kayu bakar kelas satu. Kayu jati menghasilkan panas yang tinggi, sehingga dulu digunakan sebagai bahan bakar lokomotif uap.
Sebagian besar kebutuhan kayu jati dunia dipasok oleh Indonesia dan Myanmar.

Fungsi ekonomis hutan jati jawa: hasil hutan kayu

Sebagai jenis hutan paling luas di Pulau Jawa, hutan jati memiliki nilai ekonomis, ekologis, dan sosial yang penting.
Kayu jati jawa telah dimanfaatkan sejak zaman Kerajaan Majapahit. Jati terutama dipakai untuk membangun rumah dan alat pertanian. Sampai dengan masa Perang Dunia Kedua, orang Jawa pada umumnya hanya mengenal kayu jati sebagai bahan bangunan. Kayu-kayu bukan jati disebut ‘kayu tahun’. Artinya, kayu yang keawetannya untuk beberapa tahun saja.
Selain itu, jati digunakan dalam membangun kapal-kapal niaga dan kapal-kapal perang. Beberapa daerah yang berdekatan dengan hutan jati di pantai utara Jawa pun pernah menjadi pusat galangan kapal, seperti Tegal, Juwana, Tuban, dan Pasuruan. Namun, galang kapal terbesar dan paling kenal berada di Jepara dan Rembang, sebagaimana dicatat oleh petualang Tomé Pires pada awal abad ke-16.
VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie, Kompeni Hindia Timur Belanda) bahkan sedemikian tertarik pada “emas hijau” ini hingga berkeras mendirikan loji pertama mereka di Pulau Jawa —tepatnya di Jepara— pada 1651. VOC juga memperjuangkan izin berdagang jati melalui Semarang, Jepara, dan Surabaya. Ini karena mereka menganggap perdagangan jati akan jauh lebih menguntungkan daripada perdagangan rempah-rempah dunia yang saat itu sedang mencapai puncak keemasannya.
Di pertengahan abad ke-18, VOC telah mampu menebang jati secara lebih modern. Dan, sebagai imbalan bantuan militer mereka kepada Kerajaan Mataram di awal abad ke-19, VOC juga diberikan izin untuk menebang lahan hutan jati yang luas.
VOC lantas mewajibkan para pemuka bumiputera untuk menyerahkan kayu jati kepada VOC dalam jumlah tertentu yang besar. Melalui sistem blandong, para pemuka bumiputera ini membebankan penebangan kepada rakyat di sekitar hutan. Sebagai imbalannya, rakyat dibebaskan dari kewajiban pajak lain. Jadi, sistem blandong tersebut merupakan sebentuk kerja paksa.
VOC kemudian memboyong pulang gelondongan jati jawa ke Amsterdam dan Rotterdam. Kedua kota pelabuhan terakhir ini pun berkembang menjadi pusat-pusat industri kapal kelas dunia.
Di pantai utara Jawa sendiri, galangan-galangan kapal Jepara dan Rembang tetap sibuk hingga pertengahan abad ke-19. Mereka gulung tikar hanya setelah banyak pengusaha perkapalan keturunan Arab lebih memilih tinggal di Surabaya. Lagipula, saat itu kapal lebih banyak dibuat dari logam dan tidak banyak bergantung pada bahan kayu.
Namun, pascakemerdekaan negeri ini, jati jawa masih sangat menguntungkan. Produksi jati selama periode emas 1984-1988 mencapai 800.000 m3/tahun. Ekspor kayu gelondongan jati pada 1989 mencapai 46.000 m3, dengan harga jual dasar 640 USD/m3.
Pada 1990, ekspor gelondongan jati dilarang oleh pemerintah karena kebutuhan industri kehutanan di dalam negeri yang melonjak. Sekalipun demikian, Perhutani mencatat bahwa sekitar 80% pendapatan mereka dari penjualan semua jenis kayu pada 1999 berasal dari penjualan gelondongan jati di dalam negeri. Pada masa yang sama, sekitar 89% pendapatan Perhutani dari ekspor produk kayu berasal dari produk-produk jati, terutama yang berbentuk garden furniture (mebel taman).

Manfaat yang lain

Daun jati dimanfaatkan secara tradisional di Jawa sebagai pembungkus, termasuk pembungkus makanan. Nasi yang dibungkus dengan daun jati terasa lebih nikmat. Contohnya adalah nasi jamblang yang terkenal dari daerah Jamblang, Cirebon.
Daun jati juga banyak digunakan di Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai pembungkus tempe.
Berbagai jenis serangga hama jati juga sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan orang desa. Dua di antaranya adalah belalang jati (Jw. walang kayu), yang besar berwarna kecoklatan, dan ulat-jati (Endoclita). Ulat jati bahkan kerap dianggap makanan istimewa karena lezatnya. Ulat ini dikumpulkan menjelang musim hujan, di pagi hari ketika ulat-ulat itu bergelantungan turun dari pohon untuk mencari tempat untuk membentuk kepompong (Jw. ungkrung). Kepompong ulat jati pun turut dikumpulkan dan dimakan.

Fungsi ekonomis lain dari hutan jati jawa

Jika berkunjung ke hutan-hutan jati di Jawa, kita akan melihat bahwa kawasan-kawasan itu memiliki fungsi ekonomis lain di samping menghasilkan kayu jati.
Banyak pesanggem (petani) yang hidup di desa hutan jati memanfaatkan kulit pohon jati sebagai bahan dinding rumah mereka. Daun jati, yang lebar berbulu dan gugur di musim kemarau itu, mereka pakai sebagai pembungkus makanan dan barang. Cabang dan ranting jati menjadi bahan bakar bagi banyak rumah tangga di desa hutan jati.
Hutan jati terutama menyediakan lahan garapan. Di sela-sela pepohonan jati, para petani menanam palawija berbanjar-banjar. Dari hutan jati sendiri, mereka dapat memperoleh penghasilan tambahan berupa madu, sejumlah sumber makanan berkarbohidrat, dan obat-obatan.
Makanan pengganti nasi yang tumbuh di hutan jati misalnya adalah gadung (Dioscorea hispida) dan uwi (Dioscorea alata). Bahkan, masyarakat desa hutan jati juga memanfaatkan iles-iles (Ammorphophallus) pada saat paceklik. Tumbuhan obat-obatan tradisional seperti kencur (Alpina longa), kunyit (Curcuma domestica), jahe (Zingiber officinale), dan temu lawak (Curcuma longa) tumbuh di kawasan hutan ini.
Pohon jati juga menghasilkan bergugus-gugus bunga keputihan yang merekah tak lama setelah fajar. Masa penyerbukan bunga jati yang terbaik terjadi di sekitar tengah hati —setiap bunga hidup hanya sepanjang satu hari. Penyerbukan bunga dilakukan oleh banyak serangga, tetapi terutama oleh jenis-jenis lebah. Oleh karena itu, penduduk juga sering dapat memanen madu lebah dari hutan-hutan jati.
Masyarakat desa hutan jati di Jawa juga biasa memelihara ternak seperti kerbau, sapi, dan kambing. Jenis ternak tersebut memerlukan rumput-rumputan sebagai pakan. Walaupun para petani kadang akan mudah mendapatkan rerumputan di sawah atau tegal, mereka lebih banyak memanfaatkan lahan hutan sebagai sumber penghasil makanan ternak. Dengan melepaskan begitu saja ternak ke dalam hutan, ternak akan mendapatkan beragam jenis pakan yang diperlukan. Waktu yang tidak dipergunakan oleh keluarga petani untuk mengumpulkan rerumputan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya.

Fungsi non-ekonomis hutan jati jawa

Pada 2003, sekitar 76% lahan hutan jati Perhutani di Jawa dikukuhkan sebagai hutan produksi, yaitu kawasan hutan dengan fungsi pokok memproduksi hasil hutan (terutama kayu). Hanya kurang dari 24% hutan jati Perhutani dikukuhkan sebagai hutan lindung, suaka alam, hutan wisata, dan cagar alam.
Mengingat lahannya yang relatif cukup luas, hutan jati dipandang memiliki fungsi-fungsi non-ekonomis yang penting. Fungsi-fungsi non-ekonomis tersebut adalah sebagai berikut:

Fungsi penyangga ekosistem

Tajuk pepohonan dalam hutan jati akan menyerap dan menguraikan zat-zat pencemar (polutan) dan cahaya yang berlebihan. Tajuk hutan itu pun melakukan proses fotosintesis yang menyerap karbondioksida dari udara dan melepaskan kembali oksigen dan uap air ke udara. Semua ini membantu menjaga kestabilan iklim di dalam dan sekitar hutan. Hutan jati pun ikut mendukung kesuburan tanah. Ini karena akar pepohonan dalam hutan jati tumbuh melebar dan mendalam. Pertumbuhan akar ini akan membantu menggemburkan tanah, sehingga memudahkan air dan udara masuk ke dalamnya. Tajuk (mahkota hijau) pepohonan dan tumbuhan bawah dalam hutan jati akan menghasilkan serasah, yaitu jatuhan ranting, buah, dan bunga dari tumbuhan yang menutupi permukaan tanah hutan. Serasah menjadi bahan dasar untuk menghasilkan humus tanah. Berbagai mikroorganisme hidup berlindung dan berkembang dalam serasah ini. Uniknya, mikroorganisme itu juga yang akan memakan dan mengurai serasah menjadi humus tanah. Serasah pun membantu meredam entakan air hujan sehingga melindungi tanah dari erosi oleh air.

Fungsi biologis

Jika hutan jati berbentuk hutan murni —sehingga lebih seperti ‘kebun’ jati— erosi tanah justru akan lebih besar terjadi. Tajuk jati rakus cahaya matahari sehingga cabang-cabangnya tidak semestinya bersentuhan. Perakaran jati juga tidak tahan bersaing dengan perakaran tanaman lain. Dengan demikian, serasah tanah cenderung tidak banyak. Tanpa banyak tutupan tumbuhan pada lantai hutan, lapisan tanah teratas lebih mudah terbawa oleh aliran air dan tiupan angin.
Untunglah, hutan jati berkembang dengan sejumlah tanaman yang lebih beragam. Di dalam hutan jati, kita dapat menemukan bungur (Lagerstroemia speciosa), dlingsem (Homalium tomentosum), dluwak (Grewia paniculata), katamaka (Kleinhovia hospita), kemloko (Phyllanthus emblica), Kepuh (Sterculia foetida), kesambi (Schleichera oleosa), laban (Vitex pubscens), ploso (Butea monosperma), serut (Streblus asper), trengguli (Cassia fistula), winong (Tetrameles nudflora), dan lain-lain. Lamtoro (Leucenia leucocephalla) dan akasia (Acacia villosa) pun ditanam sebagai tanaman sela untuk menahan erosi tanah dan menambah kesuburan tanah.
Daerah Gunung Kidul, Yogyakarta, yang gersang dan rusak parah sebelum 1978, ternyata berhasil diselamatkan dengan pola penanaman campuran jati dan jenis-jenis lain ini. Dalam selang waktu hampir 30 tahun, lebih dari 60% lahan rusak dapat diubah menjadi lahan yang menghasilkan. Penduduk setempat paling banyak memilih menanam jati di lahan mereka karena melihat nilai manfaatnya, cara tanamnya yang mudah, dan harga jual kayunya yang tinggi. Mereka mencampurkan penanaman jati di kebun dan pekarangan mereka dengan mahoni (Swietenia mahogany), akasia (Acacia villosa), dan sonokeling (Dalbergia latifolia).
Daerah Gunung Kidul kini berubah menjadi lahan hijau yang berhawa lebih sejuk dan memiliki keragaman hayati yang lebih tinggi. Perubahan lingkungan itu telah mengundang banyak satwa untuk singgah, terutama burung —satwa yang kerap dijadikan penanda kesehatan suatu lingkungan. Selain itu, kekayaan lahan ini sekaligus menjadi cadangan sumberdaya untuk masa depan.

Fungsi sosial

Banyak lahan hutan jati di Jawa, baik yang dikukuhkan sebagai hutan produksi maupun hutan non-produksi, memberikan layanan sebagai pusat penelitian dan pendidikan, pusat pemantauan alam, tempat berekreasi dan pariwisata, serta sumber pengembangan budaya.
Yang mungkin paling menarik untuk dikunjungi adalah Monumen Gubug Payung di Cepu, Blora, Jawa Tengah. Tempat ini merupakan museum hidup dari pepohonan jati yang berusia lebih dari seabad, setinggi rata-rata di atas 39 meter dan berdiameter rata-rata 89 sentimeter.
Kita dapat menikmati pemandangan hutan dari ketinggian dengan menumpang loko “Bahagia”. Di sini, kita juga dapat meninjau Arboretum Jati; hutan buatan dengan koleksi 32 jenis pohon jati yang tumbuh di seluruh Indonesia. Ada juga Puslitbang Cepu yang mengembangkan bibit jati unggul yang dikenal sebagai JPP (Jati Plus Perhutani). Pengunjung boleh membeli sapihan jati dan menanamnya sendiri di sini. Pengelola kemudian akan merawat dan menamai pohon itu sesuai dengan nama pengunjung bersangkutan.

Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia

Jumat, 13 Juli 2012

Mebel Minimalis


Proses Mebel Minimalis
Dalam proses mebel minimalis kami mempunyai standar proses produksi yang bermutu tinggi ,karena proses pembuatan mebel kami di kerjakan oleh tenaga kerja yang mempunyai skill dan sentuhn seni tinggi,termasuk dalam proses pengerjaan mebel minimalis.
Tahapan Proses Mebel Minimalis
Proses Mebel Minimalis 
 dalam pengerjaan kayu Jati menjadi furniture  adalah memiliki keunggulan  sebagai berikut :
1.      proses penggergajian dengan mesin gergaji menjadi lembaran papan
2.       dilanjutkan dengan proses pengeringan berdiri dan diangin anginkan selama kurang lebih 3 hari.
3.      Selanjutnya kayu jati dimasukkan kedalam mesin oven untuk pengeringan lanjutan dengan suhu yang menengah sehinggan kayu tidak pecah dan akan kering sempurna.
4.      Tahapan yang selanjutnya adalah penyemprotan zat penguat dan perendaman dalam cairan ramah lingkungan untuk memperkuat kayu.
5.       Proses pengerjaan menjadi furniture dan dilanjutkan dengan proses finishing untuk meningkatkan daya ikat,ketahanan goresan dan menajamkan warna dengan plitur,cat duco,maupun cat warna natural.
6.      Penyortiran produk yang terbaik dilempar ke pasar luar negeri dan yang kwalitas 2 digunakan untuk pasar domestik.
Proses Mebel Minimalis dari Kayu Jati
Dengan perpaduan kayu Jati yang memiliki kualitas kayu yang sangat bagus, dipadukan keahlian perajin kayu Jepara yang sudah melegenda menghasilkan produk furniture yang unggul di pasaran dunia, bahkan jepang mengakui bahwa kayu Jati memiliki kualitas diatas kayu pinus,untuk keindahan setara dengan kayu mahoni.
anda dapat melihat langsung Proses Mebel Minimalis dari kayu jati ataupun datang ke gallery furniture kami,atau memesan mebel minimalis kami.


Senin, 09 Juli 2012

Pusat Produksi Mebel Jakarta

Inilah Lokasi Pusat Produksi Mebel di Wilayah Jakarta Ingin mudah dan cepat mendapatkan mebel atau furniture sesuai dengan selera namun tetap dengan harga yang murah , inilah lokasi yang menjadi tujuan bagi pemburu mebel

Klender ,Jakarta Timur



Kawasan Klender, Jatinegarakaum, Jakarta Timur, sebagai pusat produksi mebel, membuat Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur mulai membidik kawasan itu sebagai pusat promosi mebel. Dengan dipilihnya, Klender sebagai pusatpromosi, diharapkan akan lebih memudahkan dalam upaya penjualan dan promosi usaha permebelan, karena selama ini pusat penjualan itu terkonsentrasi di tiga titik wilayah.
KasudinKoperasiUsahaMikroKecil Menengah dan Perdagangan (KUMKMP) Jakarta Timur Indriastuti mengatakan, saat ini sentra mebel yang ada di Jakarta Timur tersebar di tiga kecamatan, sepertiPulogadung,  Durensawit dan Cakung dengan jumlah perajin yang mencapai ribuan. Untuk memudahkan promosi produk hasil produksi perajin, pihaknya akan memilih kawasan industri mebel Klender di Jatinegarakaum untuk dijadikan pusat promosi industri usaha mebel di JakartaTimur.rencananya usaha mebel di Jakarta Timur akan dipusatkan dalam satu titik tempat di Klender, Jatinegarakaum.
Namun, untuk merelokasi perajin ke satu tempat, pihaknya akan melakukan pendataan terlebih dahulu. Dengan berbekal data itu, akan dijadikan acuan pihaknya dalam penempatan perajin di lokasi yang baru.Perdagangan usaha furniture atau jual beli mebel di Jatinegarakaum sudah dilakukannya sejak sekitar tahun 1970. Beberapa hasil produksinya seperti kursi dan tempat tidur dipasarkan ke beberapa daerah di dalam maupun luar negeri. "Untuk domestik membidik daerah Makasar, Palembang dan Lampung. Sedang luarnegeri, selain Eropa kita juga pasarkan keIndia dan ArabSaudi.



Minggu, 01 Juli 2012

Desain Ruangan Rumah Minimalis yang nyaman


DESAIN RUANGAN KELUARGA MINIMALIS MENJADI LEBIH LUAS

Ruang keluarga biasanya menjadi tempat favorit bagi seluruh anggota keluarga. Di tempat inilah, orangtua bisa menonton TVbersama anak, bercengkerama, membaca majalah atau berbagai kegiatan lainnya.

Dengan banyaknya aktivitas di ruang keluarga, tentunya ruang gerak akan lebih bebas jika diimbangi ruangan yang luas. Tapi bagaimana jika rumah Anda tidak memiliki ruang yang cukup luas atau ruangan minimalis? Jangan khawatir, ada beberapa trikuntuk membuat ruang keluarga Anda yang mungil tetap nyaman. Ini tipsnya, 
1. Kombinasi Warna
Ubahlah warna dinding Anda agar ruangan terlihat lebih besar. Warnacerah dan terang bisa membuat ruang keluarga tampak lebih luas. Kombinasi warna krem dan biru langit adalah salah satu kombinasi warna yang baik. Ruangan tersebut akan terlihat lebih terbuka dan memiliki udara yang baik sehingga memaksimalkan efek cahaya natural.

2. Tata Cahaya
Jika memungkinkan untuk memodifikasi sedikit bangunan Anda, maka usahakanlah agar ruang keluarga dimasuki cahaya dari luar. Cahaya yang masuk akan membuat ruangan akan terlihat lebih luas.

Tambah jumlah jendela atau tinggikan dan lebarkan panel jendela. Jangan lupa mengaplikasikan tirai tipis agar Anda bisa menutup jendela jika pemandangan dari luar sedang kurang bagus. Namun jika tidak memungkinkan untuk modifikasi, maka cahaya lampu adalah solusinya. Dengan menambahkan jumlah lampu di langit-langit ruangan, selain terlihat lebih cerah, ruangan juga tampak lebih luas.

3. Pemilihan Furnitur
Hindari menempatkan mebel dan furnutir yang terlalu tinggi, karena akan membuat langit-langit ruangan terlihat lebih rendah dari yang sebenarnya. Pilihan sofa dan kursi tanpa dudukan lengan akan memperlebar ruangan. Tambahan sebuah meja dari kaca akan membuat kesan ruangan lebih leluasa.

4. Hiasan Dinding
Minimalkan penempatan hiasan dinding, cukup tempatkan satu hingga dua lukisan atau beberapa pajangan. Hindari hiasan dinding yang terlalu besar, karena akan mengurangi ruang kosong pada dinding dan membuat ruangan terlihat semakin sempit.

5. Tentukan VocalPoint
Dalam setiap ruangan diperlukan sebuah vocal point. Tujuannya agar saat melihat ruangan tersebut, mata seseorang langsung tertuju pada titik tersebut. Anda bisa menjadikan meja atau sofa yang menjadi vocalpoint dalam ruang keluarga. Oleh karena itu atur posisi sofa dan meja sehingga menjadi pusatperhatian pada ruang keluarga.

6. Tempatkan Cermin
Cermin besar dapat merefleksikan sebuah ruangan sehingga membuatnya lebih luas hingga duakalilipat. Pengaplikasian cermin yang terbaik adalah di seberang vocal point dari sebuah ruangan.
sumber : walipop

Sabtu, 30 Juni 2012

Produk Mebel Jati Asal Wonogiri


Produk Unggulan Kabupaten Wonogiri



Mebel adalah Industri mebel di sudah terkenal sejak lama, karena mempunyai kualitas yang baik dan harga yang kompetitif. Teknis ukiran yang ada sebagian merupakan warisan dari para leluhur di mana seiring perkembangan jaman mengalami penyempurnaan. Pada mulanya industri mebel ini mengandalkan bahan kayu jati, namun belakangan mulai banyak juga menggunakan kayu mahoni dan jenis yang lain. Sentra Industri Mebel berada di Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Batuwarno, Giritontro dan Paranggubito.hal ini menjadi kabar baik bagi perkembangan pengrajin mebel di wonogiri khususnya,dimana dengan semakin inovatifnya disegn mebel sekarang ini, pengrajin mebel di wonogiri mampu bersaing di pasar kerajinan mebel di Indonesia bahkan pasar Luar Negeri.

Pasar Mebel Solo dari Wonogiri


Wonogiri Kini Menjadi Sentra Baru Industri Mebel di Jateng
KABUPATEN Wonogiri terus berkembang sebagai salah satu sentra industri mebel diJateng. Memang baru dimulai, tetapi pertumbuhannya tergolong sangat cepat.
Selain ditandai oleh kemerebakan industri-industri mebel, perkembangan bisa pula dilihat pada nilaiekspor yang dicapai para pengusaha daerah tersebut.
Pertumbuhan industri mebel di KotaGaplek itu tak bisa dilepaskan dari peran pihak ketiga. Salah satu yang sejak 2001 sangat aktif membantu adalah PerformProject.
Lembaga konsultan dari USAID itu menelurkan program LocalEconomicDevelopment untuk membantu para perajin dan pengusaha mebel di tempat itu.
Peran PerformProject cukup besar. Sebagai industri yang baru tumbuh, para perajin dan pengusaha mebel di Wonogiri masih dibelit oleh berbagai persoalan rumit.
Persoalan itu antara lain keminiman bahan baku dan modal, serta keterbatasan kemampuan dan motivasi para pelaku industrinya.
Dari ketiga persoalan itu yang paling serius terletak pada perajin atau sumber daya manusianya.
"Warga di sini selama ini hanya menganggap usaha mebel sebagai sambilan. Mereka memilih menjadi petani saat masa tanam tiba, dan meninggalkan begitu saja usaha itu," kata Jumadiarto, seorang pengusaha di Wonogiri.
Ketika masih berkutat pada persoalan itu pada 2001, PerformProject masuk Wonogiri untuk memberikan pendampingan kepada perajin dan pengusaha mebel.
Untuk mengatasi berbagai persoalan atas fasilitas Perform Project para perajin dan pengusaha akhirnya membentuk Forum Usaha Kecil Menengah Perajin dan Eksportir Mebel Wonogiri.
AC Mochtari, seorang eksportir mebel di Wonogiri mengatakan, kini setiap bulan dia mengekspor minimal 15 kontainer mebel ke Denmark,Australia,Singapura,Spanyol, danAS. Nilainya mencapai 80.000 dolar AS.
Pada periode yang lalu Mochtari masih sendirian. Usaha mebeldiWonogiri sudah dirintis sejak tahun 1970-an, tetapi masih dianggap sebagai pekerjaan sambilan dan hanya menjadi industri rumahan.
Di samping itu, belum terlalu banyak yang mengerjakan secara serius.
"Namanya saja sambilan ya dilakukan bila ada waktu luang. Ketika itu perajin di sini hanya mengerjakan untuk keperluan sendiri atau paling banter melayani pemesanan para tetangga dekat," ujar dia.
Sebagai kon-sekuensi kegiatan sambilan, lanjut dia, ketika itu volume produksinya tidak seberapa. Kadang-kadang ada produksi, tetapi lain waktu tidak ada.
Bisa disimpulkan waktu itu mebel masih menjadi sebuah kegiatan serabutan masyarakat. Sebagian lagi meneruskan usaha dari orang tuanya.
Sebelum menjadi seperti sekarang, saat memulai usaha Mochtari tidak langsung melakukan ekspor.
Semua pengusaha itu kini merambah pasar ekspor dengan jumlah ekspor rata-rata per bulan antara 6 dan 8 kontainer.
Tenaga Kerja
Di samping memunculkan para pengusaha baru, pertumbuhan industri mebeldiWonogiri bisa dilihat pada tenaga kerja yang terserap di sektor itu.
Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Wonogiri menunjukkan ada 3.679 orang yang bekeja di sektor usaha mebel. Mereka tersebar di industri besar dan kecil pada 24 kecamatan
Mochtari mengakui perkembangan sektor industri mebel di Wonogiri tidak bisa dilepaskan dari kemerosotan industri sejenis di Jepara. Bahkan itu saling terkait.
Sekarang banyak perajin mebel di Jepara yang menjual barang setengah jadi kepada para pengusaha di Wonogiri. Barang-barang itu lalu di-finishing dan kemudian diekspor.
"Saya masih menerima banyak barang setengah jadi produksi perajin mebel Jepara. Barang-barang itu diberi sentuhan akhir di sini sebelum dilempar ke pasar ekspor," tutur Mochtari.
RegionalManager PerformProject Jateng, TrisSuswanto, mengatakan, program LocalEconomicDevelopment yang membantu perajin dan pengusaha mebel di Wonogiri hanya salah satu dari sekian program pendampingan Perform di provinsi ini.
Selain program itu, pihaknya memiliki program Perencanaan Korporat (corporate plan) bagi BPR/BKK serta Perusda, Strategi Program, Program Investasi, Perencanaan Bersama Masyarakat, dan Program Pengambangan Institusional.
"Semua program itu berada dalam payung Program Dasar Pembangunan Partisipatif yang telah kami lakukan sejak 2001," jelas dia.
Jumadiarto menyatakan pembentukan Forum Usaha Kecil Menengah yang difasilitasi Perform Project membawa perubahan positif bagi perkembangan industri mebel di Wonogiri.
Pemerintah Kabupaten Wonogiri yang sebelumnya tidak terlalu memperhatikan sektor industri itu, mulai melirik sebagai salah satu program unggulan pemerintah setempat.
Itu antara lain terlihat pada pemasukan industri mebel pada salah satu program kerja sama regional tiga kabupaten di tiga provinsi.
Kerja sama berbagai bidang antara Pemerintah Kabupaten Pacitan (Jatim), Wonogiri (Jateng), dan Wonosari (DIY) yang lebih dikenal dengan sebutan Pawonsari itu kini menjalin komitmen mengembangkan industri mebel di ketiga wilayah tersebut.
Kerja sama itu saling berkait karena kebutuhan ketiga daerah yang berbeda dipertemukan. Jika persoalan di Wonogiri menyangkut bahan baku, di PacitandanWonosari bahan baku justru berlimpah. Sementara itu soal tenaga perajin dan eksportir Wonogiri lebih unggul dibandingkan dengan kedua daerah itu. Kekurangan dan kelebihan itu dipertemukan dalam jalinan kerja sama.
Berbagai realisasi kerja sama sudah dirintis. Namun, karena persoalan di tiga wilayah itu berbeda realisasi dan penanganan, persoalannya pun berbeda."Untuk sementara ini Wonogiri berperan membina perajin dan eksportir dari PacitandanWonosari. Bahkan ada program magang bagi perajin dari kedua daerah itu. Mereka mengirimkan perajin masing-masing 5 orang untuk magang di sini," kata Jumadiarto.
Bagi Wonogiri, bahan baku kayu jati yang berlimpah di Pacitan dan Wonosari bisa dimanfaatkan. Bahkan ke depan kerja sama itu diharapkan bisa menghasilkan semacam tradinghouse atau showroombersama produk mebel.
Di samping itu, Wonogiri akan dikembangkan menjadi pusat pemasaran hasil mebel dari ketiga daerah tersebut.

Sejarah Mebel Ukir Jepara


Kabupaten Jepara, adalah salah satu kabupaten di Provinsi  Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Jepara Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di barat dan utara, Kabupaten Pati  dan Kabupaten Kudus  di timur, serta Kabupaten Demak  di selatan. Wilayah Kabupaten Jepara juga meliputi Kepulauan Karimunjawa  yang berada di Laut Jawa.
Kabupaten Jepara terletak di pantura timur Jawa Tengah, dimana bagian barat dan utara dibatasi oleh laut. Bagian timur wilayah kabupaten ini merupakan daerah pegunungan.
Wilayah Kabupaten Jepara juga meliputi Kepulauan Karimunjawa, yakni gugusan pulau-pulau di Laut Jawa  Dua pulau terbesarnya adalah Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan. Sebagian besar wilayah Karimunjawa dilindungi dalam Cagar Alam Laut Karimunjawa. Penyeberangan ke kepulauan ini dilayani oleh kapal ferry yang bertolak dari Pelabuhan Jepara. Karimunjawa juga terdapat lapangan terbang perintis yang didarati pesawat berjenis kecil dari Semarang.
Jauh sebelum adanya kerajaan-kerajaan ditanah jawa. Diujung sebelah utara pulau Jawa sudah ada sekelompok penduduk yang diyakini orang-orang itu berasal dari daerah Yunnan Selatan yang kala itu melakukan migrasi ke arah selatan. Jepara saat itu masih terpisah oleh selat Juwana.
Asal nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara, yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah. Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M)” mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga  yang juga disebut Jawa  atau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara sekarang ini, serta dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas.
Menurut seorang penulis Portugis bernama Tome Pires dalam bukunya “Suma Oriental”, Jepara baru dikenal pada abad ke-XV (1470 M) sebagai bandar perdagangan yang kecil yang baru dihuni oleh 90-100 orang dan dipimpin oleh Aryo Timur dan berada dibawah pemerintahan Demak. Kemudian Aryo Timur digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus  (1507-1521). Pati Unus mencoba untuk membangun Jepara menjadi kota niaga.
Pati Unus dikenal sangat gigih melawan penjajahan Portugis di Malaka yang menjadi mata rantai perdagangan nusantara. Setelah Pati Unus wafat digantikan oleh ipar Faletehan  /Fatahillah yang berkuasa (1521-1536). Kemudian pada tahun 1536 oleh penguasa Demak yaitu Sultan Trenggono , Jepara diserahkan kepada anak dan menantunya yaitu Ratu Retno Kencono dan Pangeran Hadirin, suaminya. Namun setelah tewasnya Sultan Trenggono dalam Ekspedisi Militer di Panarukan Jawa Timur pada tahun 1546, timbulnya geger perebutan tahta kerajaan Demak yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Hadiri oleh Aryo Penangsang  pada tahun 1549.
Kematian orang-orang yang dikasihi membuat Ratu Retno Kencono sangat berduka dan meninggalkan kehidupan istana untuk bertapa di bukit Danaraja. Setelah terbunuhnya Aryo Penangsang oleh Sutowijoyo, Ratu Retno Kencono bersedia turun dari pertapaan dan dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar NIMAS RATU KALINYAMAT.
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579), Jepara berkembang pesat menjadi Bandar Niaga utama di Pulau Jawa  yang melayani eksport import. Disamping itu juga menjadi Pangkalan Angkatan Laut yang telah dirintis sejak masa Kerajaan Demak
Sebagai seorang penguasa Jepara, yang gemah ripah loh jinawi karena keberadaan Jepara kala itu sebagai Bandar Niaga yang ramai, Ratu Kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman armada perangnya ke Malaka  guna menggempur Portugis pada tahun 1551 dan tahun 1574. Adalah tidak berlebihan jika orang Portugis saat itu menyebut sang Ratu sebagai RAINHA DE JEPARA”SENORA DE RICA, yang artinya Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya raya.
Serangan sang Ratu yang gagah berani ini melibatkan hamper 40 buah kapal yang berisikan lebih kurang 5.000 orang prajurit. Namun serangan ini gagal, ketika prajurit Kalinyamat ini melakukan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan Portugis di Malaka, tentara Portugis dengan persenjataan lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Kalinyamat.
Namun semangat Patriotisme sang Ratu tidak pernah luntur dan gentar menghadapi penjajah bangsa Portugis, yang di abad 16 itu sedang dalam puncak kejayaan dan diakui sebagai bangsa pemberani di Dunia.
Dua puluh empat tahun kemudian atau tepatnya Oktober 1574, sang Ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya yang lebih besar di Malaka. Ekspedisi militer kedua ini melibatkan 300 buah kapal diantaranya 80 buah kapal jung besar berawak 15.000 orang prajurit pilihan. Pengiriman armada militer kedua ini di pimpin oleh panglima terpenting dalam kerajaan yang disebut orang Portugis sebagai “QUILIMO”.
Walaupun akhirnya perang kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara ini, terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari Penjajahan Portugis di abad 16 itu.
Sebagai peninggalan sejarah dari perang besar antara Jepara dan Portugis, sampai sekarang masih terdapat di Malaka komplek kuburan yang di sebut sebagai Makam Tentara Jawa. Selain itu tokoh Ratu Kalinyamat ini juga sangat berjasa dalam membudayakan SENI UKIR yang sekarang ini jadi andalan utama ekonomi Jepara yaitu perpaduan seni ukir Majapahit dengan seni ukir Patih Badarduwung yang berasal dari Negeri Cina
Menurut catatan sejarah Ratu Kalinyamat wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di desa Mantingan Jepara, di sebelah makam suaminya Pangeran Hadiri. Mengacu pada semua aspek positif yang telah dibuktikan oleh Ratu Kalinyamat sehingga Jepara menjadi negeri yang makmur, kuat dan mashur maka penetapan Hari Jadi Jepara yang mengambil waktu beliau dinobatkan sebagai penguasa Jepara atau yang bertepatan dengan tanggal 10 April 1549 ini telah ditandai dengan Candra Sengkala TRUS KARYA TATANING BUMI atau terus bekerja keras membangun daerah.
Untuk Tahun 2010 ini, Jepara telah mendapatkan sertifikasi Indikasi Geografis terhadap produk Ukir nya yang sangat khas.[2
Julukan Jepara
  • Jepara Kota Ukir
Pada zaman Kerajaan kalinyamat yang dipimpin Sultan Hadlirin ayah angkatnya yang berasal dari Cina mengukir batu yang dia bawa dari Cina untuk di letakan di Masjid Mantingan. Lalu dia mengajarkan cara mengukir yang indah kepada warga Jepara sampai sekarang. maka Jepara di Juluki Kota Ukir.
  • Jepara Bumi Kartini
Jepara adalah kota dilahirkanya pahlawan nasional R.A. Kartini, maka Jepara di juluki Bumi Kartini.
  • Jepara Kota Kerajinan/ Kota Seni
Banyak seni kerajinan di Jepara seperti seni ukir, sini, patung, seni relief, seni monel, seni emasan, seni gerabah, seni rotan, seni anyaman bambu, seni macan kurung, dll. Oleh karena itu Jepara di juluki Kota Kerajinan.
  • Jepara Kota 1000 Ponpes
Pondok Pesantren sangat banyak di Rembang tetapi di Jepara terdapat Pondok Pesantren 2x lipat jumlah pondok pesantren di Kabupaten Rembang. Oleh karena itu Jepara di kenal sebagai Kota Seribu Pondok Pesantren.
  • The World Carving Center
Jepara berhasil membuat Rekor MURI sekaligus Rekor Dunia dalam bidang mengukir kayu bersama terbanyak di dunia. Maka Jepara resmi menyandang gelar The World Carving Center.
  • Caribbean van Java
Pantai di Jepara sangat alami indah seperti Pantai Kartini, Pantai Teluk Awur, Pantai Tirto Samodra, Karimunjawa keindahanya seperti di Caribbean oleh karena itu belanda memberi julukan sebagai Caribbean van Java.

Potensi

Jepara dikenal sebagai kota ukir, karena terdapat sentra kerajinan ukiran kayu ketenarannya hingga ke luar negeri. Kerajinan mebel dan ukir ini tersebar merata hampir di seluruh kecamatan dengan keahlian masing-masing. Namun sentra perdagangannya terlekat di wilayah Ngabul, Senenan, Tahunan, Pekeng, Kalongan dan Pemuda. Selain itu, Jepara merupakan kota kelahiran pahlawan wanita Indonesia R.A Kartini.

Tips Merawat Furniture Kayu


Unsur kayu dapat membangun suasana hangat dan klasik di dalam ruangan anda. Selain itu furniture kayu  juga dapat
dipakai dalam jangka waktu yang lama.  Sebagai pecinta furniture kayu anda harus memiliki cara untuk menjaga dan
merawat koleksi anda agar tidak mudah rusak.

Salah satu cara untuk menjaga keindahan furniture kayu adalah dengan cara di polish. Polish adalah cairan yang berguna
untuk menggosok furniture dan membuat nya menjadi mengkilat. Furniture lama juga dapat terlihat baru lagi dengan cara
di mem-polish. Sebelum mem-polish furniture kayu, anda harus membersihkannya dari kotoran dan debu terlebih  dahulu.
Hal ini dilakukan untuk mencapai hasil akhir yang maksimal.

Cara membersihkannya:
·         setiap minggu bersihkan kayu dengan kain yang yang dibasahi.  Hal ini untuk mencegah timbulnya goresan pada
furniture
·         bersihkan dan polish setiap bulan
·         selalu gunakan pelindung/alas dari minuman/makanan panas atau dingin
·         Hindari dari panas matahari yang dapat merusak warna
·         Jangan menggeser apapun di atas furniture kayu karena akan menimbulkan goresan.

Jika terkena cat atau semen atau cairan lainnya, segera dibersihkan. Karena jika tidak langsung dibersihkan ia akan
menyerap ke dalam sehingga material kayu akan cepat rusak atau keropos.